Bendera kerajaan Ama-Iha Ulupia
Tulisan ini adalah upaya mencatat hal-hal yang kiranya nanti menjadi perlu dalam penelitian yang mendalam mengenai Pengaruh Cina di Maluku. Beberapa hal yang sudah ditulis dalam tulisan awal saya itu akan digali lagi, terutama berkaitan dengan aspek-aspek sosial, demografis, ekonomi, dll. Kali ini saya hendak mendatakan beberapa hal yang nanti juga menjadi data untuk menganalisa sejauhmana Cina meninggalkan ‘jejaknya’ di Maluku.
a. Bendera
Dalam tulisan awal saya itu, dikatakan di sana pula bahwa budaya membuat atau memiliki bendera adalah budaya Cina. Karena itu jika ada suatu Negeri di Maluku yang memiliki bendera Negeri, dengan simbol tertentu, boleh dikatakan bahwa itu adalah salah satu bukti pengaruh Cina dalam struktur ideologi atau politik Negeri itu.
Dalam Tesis Magister, Pdt. Max Haulussy, pada Program Pascasarjana Agama dan Kebudayaan, UKIM, Ambon (2010), dikabarkan bahwa Kerajaan Islam Iha bahkan memiliki sebuah bendera.
Dijelaskan dalam Tesis itu bahwa:
bendera Kerajaan Iha menyerupai seekor burung Talang yang menukik menyergap mangsanya. Burung ini menguasai (udara) langit dan kemampuannya dalam penyergapan terhadap musuhnya secara tepat. Setelah musuh dapat dilumpuhkan (dibunuh), ia kembali, terbang menuju sarangnya yang jauh di puncak gunung. Oleh karena itu, nenek moyang masyarakat Maluku menggunakan burung talang sebagai simbol keperkasaan orang Maluku. Mereka menyerang musuh, membunuhnya, membumihanguskan daerah musuh tersebut, lalu mereka kembali pulang ke tempatnya. Mereka tidak bermaksud menduduki atau menguasai daerah itu.
Simbol burung Talang untuk Kerajaan Iha sendiri berarti: barangsiapa yang menguasai udara (langit), ia adalah pengawal upu lanite (Tuhan). Burung Talang juga mengandung makna walaupun kecil tetapi memiliki kekuatan yang sangat besar. Warna merah dan kuning pada gambar burung melambangkan keberanian dan keagungan. Lambang bulan sabit melambangkan corak keislaman kerajaan Iha. Sedangkan lambang plus (tanda tambah) menunjuk pada relasi masyarakat Iha secara vertikal kepada Upu Lanite dan secara horisontal dengan sesama manusia. Warna putih pada keduanya menggambarkan kesucian hubungan yang tercipta (vertikal dan horisontal), sekaligus memberi kesan terhadap karakteristik masyarakat Iha yang selalu terbuka dalam interaksi, baik dengan Tuhan maupun sesama manusia, tetapi tetap memerangi kebatilan dan keserakahan terutama terhadap apa yang dilakukan oleh para penjajah. Pengaruh kerajaan ini tersebar sampai ke luar Nusa Iha.
Di manakah letak pengaruh Cina dalam gambaran bendera itu? Hal itu masih perlu diteliti. Tetapi jika dalam peperangan, tentara Kerajaan Iha selalu maju di bawah panji/bendera itu, itu bisa menunjuk pada salah satu bukti pengaruh Cina. Bendera telah membentuk suatu lapis pemahaman ideologis terhadap negerinya.
Teman-taman sebenarny saya juga masi buta tentang ini ....
kritik dan comentarnya sanagat di harapkan .
kritik dan comentarnya sanagat di harapkan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar